Tag Archives: trouble two

Pendidikan Keluarga Dalam Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Oleh :  Zaitu Asrilla

Karaktervorming dan Sociale Opvoeding
Berikanlah satu hari kepada Keluarga

Jauh sebelum hingar bingar dan maraknya pemikiran sekolah alternatif homeschooling, sesungguhnya Ki Hadjar Dewantara beberapa dekade lalu sudah memikirkan dengan sungguh-sungguh tentang pendidikan keluarga.

Bagi Ki Hadjar, keluarga yaitu kumpulnya beberapa orang yang terikat oleh satu turunan lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai satu gabungan yang khak, pun berkehendak juga bersama-sama memperteguh gabungan itu untuk kemuliaan satu-satunya dan semua anggauta. Di dalam hidup keluarga terdapatlah aturan yang berdasarkan cinta-kasih (yakni Gusti yang tak terlihat), menuju tertib dan damai buat persatuannya, selamat dan bahagia buat masing-masing anggautanya, sedangkan bersatunya keluarga selalu diutamakan.

Continue reading

Advertisements

Leave a comment

Filed under Zedutopia Program Belajar Khusus

Dramaqueen

Balita acting ? Jangan-jangan anakku ingin jadi pemain sinetron…..

“Bar setu minggu,bar nangis ngguyu” (habis sabtu minggu, habis nangis tertawa – pepatah Jawa). Pepatah Jawa kuno ini biasanya jadi senjata suami saya kalau Tara mulai berkeras menginginkan sesuatu dengan cara menangis keras-keras tapi tidak ada airmatanya alias pura-pura. Dan kalau Tara sudah mulai tertawa, saya dan bapaknya serempak berseru ” uuh..acting!”.

Sebuah email dari seorang ibu di salah satu milist menanyakan mengapa tiba-tiba anak perempuannya menjadi seorang “dramaqueen” ? Sang ibu merasa anaknya “beracting” dari mulai tangisan pura-pura, teriakan tiba-tiba, menyanyi sambil pura-pura menghayati lagu. Kejutan-kejutan si anak membuat ibunya berpikir, apa iya “dramaqueen” turunan ? Benarkah anak-anak balita kita sedang bermain peran ? Penjelasannya mungkin seperti ini. Secara umum usia 1-2 tahun adalah masa dimana anak mulai belajar menilai dan merespon lingkungan. Banyak prilaku eksperimental yang dilakukan anak. Temper tantrum, sebentar marah sebentar tertawa, mulai merasa malu, takut dan cemas, cemburu, ribut dengan teman, belajar memahami orang disekitarnya, dan berusaha mandiri. Pada fase inilah proses perkembangan tercepat pada manusia terjadi.

Perkembangan intelektual dan sosialnya berlangsung pesat, terutama perkembangan bahasa. Anak sudah belajar tentang hubungan-hubungannya dengan orang-orang di sekelilingnya dan belajar memberi respon terhadap lingkungannya. Mulai memiliki rasa penasaran dan rasa ingin tahu yang besar. Pada fase ini anak sedang mengembangkan potensi yang luar biasa. Karena itulah mengapa orang tua seringkali mendapati prilaku anaknya
tiba-tiba berubah drastis. Perilaku tersebut tidak lain adalah karena anak sedang mengeksplorasi lingkungannya dalam rangka menyesuaikan dirinya.

Tak perlu cemas dan panik bila hal ini terjadi. Kita sebagai 0rang tua bertugas mengarahkan perilaku anak sesuai dengan harapan lingkungannya. Lakukanlah dengan tenang, sabar dan penuh rasa kasih. Buka komunikasi dengan anak. Ajaklah dia berdialog. Meskipun masih balita, anak belajar cepat memahami pesan yang disampaikan oleh orang di sekitarnya apalagi bila berdialog dengan orang tuanya. Ajarkanlah mana perilaku yang pantas dan bisa diterima dan mana perilaku yang tidak dapat diterima.

Mengapa perilakunya berulang ? Tentu saja karena kapasitas memorinya masih berkembang dan bertumpu pada memori jangka pendek, sehingga perilakunya berulang. Oleh karena itu, orang tua jangan bosan-bosan mengarahkan dan membimbing balita. Repetisi atau pengulangan merupakan cara efektif untuk membimbing dan mengarahkan perilaku balita.

Para balita memang betul sedang beracting bukan dalam rangka menjadi aktor profesional, melainkan sedang menjalani tugas perkembangan intelektual dan psikososialnya. Bila anak dapat melampaui fase ini tanpa hambatan yang berarti maka peluang bagi perkembangan psikologis selanjutnya akan lebih mulus dan tanpa masalah. Sebaliknya, bila orang tua dan lingkungan terdekatnya salah tanggap dan mengembangkan stimulus yang keliru maka kemungkinan akan terjadi hambatan pada masa perkembangan selanjutnya.

Jadi bagi orang tua, arahkanlah anak sesuai dengan potensinya dengan arahan seimbang sesuai perkembangan intelektual dan psikososialnya tanpa pemaksaan. Siapa tahu, kelak anak anda benar-benar menjadi aktor atau aktris profesional kaliber internasional karena arahan yang benar sejak balita.

Asrillanoor, Penulis.

Leave a comment

Filed under Uncategorized