Tag Archives: sekolah

Image

Zedutopia – Program Belajar Khusus

zedutopia (2)

Advertisements

Pendidikan Keluarga Dalam Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Oleh :  Zaitu Asrilla

Karaktervorming dan Sociale Opvoeding
Berikanlah satu hari kepada Keluarga

Jauh sebelum hingar bingar dan maraknya pemikiran sekolah alternatif homeschooling, sesungguhnya Ki Hadjar Dewantara beberapa dekade lalu sudah memikirkan dengan sungguh-sungguh tentang pendidikan keluarga.

Bagi Ki Hadjar, keluarga yaitu kumpulnya beberapa orang yang terikat oleh satu turunan lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai satu gabungan yang khak, pun berkehendak juga bersama-sama memperteguh gabungan itu untuk kemuliaan satu-satunya dan semua anggauta. Di dalam hidup keluarga terdapatlah aturan yang berdasarkan cinta-kasih (yakni Gusti yang tak terlihat), menuju tertib dan damai buat persatuannya, selamat dan bahagia buat masing-masing anggautanya, sedangkan bersatunya keluarga selalu diutamakan.

Continue reading

Homeschooling, Tak Kenal Maka Tak Sayang

2013-10-21 23.48.04

Sekolah Rumah, atau yang dikenal sebagai istilah homeschooling sebenarnya sudah mulai tumbuh di Indonesia sejak satu dekade yang lalu. Hingga saat ini praktisi homeschooling sudah berjumlah ribuan baik yang tunggal maupun komunitas, baik yang bersifat informal maupun non formal. Persepsi tentang homeschooling pun sangat beragam. Mulai dari yang beranggapan bahwa homeschooling adalah sekolah artis, sekolah eksklusif, pasti mahal, hanya diperuntukkan bagi orang-orang tertentu saja. Hingga pada kontroversi mengenai keotentikan praktek homeschooling sendiri. Sebagian berkeras bahwa homeschooling tetap harus tunggal dan bersifat informal,sementara sebagian lagi sudah mulai bergerak pada bentuk komunitas yang bersifat non formal. Lepas dari kontroversi bentuk homeschooling, yang lebih memprihatinkan adalah kurangnya perhatian pemerintah terhadap praktik sekolah rumah yang tidak dapat dinafikan sekarang jumlahnya sudah berkali-kali lipat dari awal kemunculannya satu dekade yang lalu.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa praktisi homeschooling  hingga saat ini masih terus berusaha mendapatkan pengakuan dari pemerintah. Hingga hari ini, perijinan homeschooling masih “menumpang” pada perijinan PKBM atau LBB (Lembaga Bimbingan Belajar). Itulah sebabnya mengapa homeschooling kemudian dipersepsikan menjadi identik dengan PKBM dan les-lesan. Padahal sesunggunghnya esensi homeschooling jauh berbeda dari kedua bentuk lembaga diatas. Perbedaan mendasarnya adalah homeschooling mengandung filosofi pendidikan keluarga yang melibatkan peran utama orang tua dan anggota keluarga lain dalam proses pembelajaran anak. Orang tua memiliki tanggung jawab penuh atas pilihan-pilihan belajar anaknya walaupun dalam prakteknya orang tua dibantu oleh profesional dalam proses pembelajaran anak-anaknya. Sangat berbeda dengan sekolah formal, PKBM, dan Lembaga Bimbingan Belajar. Orang tua pasrah bongko’an  terhadap kurikulum, materi dan program yang disajikan bagi anak-anak mereka. Namun, homeschooling bukan semata-mata menjadi pesaing sekolah formal atau non formal lainnya. Homeschooling juga tidak mengklaim sebagai lembaga pendidikan terbaik. Namun homeschooling justru lahir dari kebutuhan masyarakat sendiri. Dan inilah yang membuat homeschooling di Indonesia sulit untuk dibendung.

Pertama, homeschooling lahir atas kekecewaan masyarakat atas praktek-praktek oknum pendidik di sekolah formal. Cap anak nakal, anak malas, tidak naik kelas, susah diatur, melawan hingga praktek oknum pendidik yang melakukan kekerasan pada anak-anak hingga bullying  yang ditolerir kerap terjadi pada sekolah-sekolah formal. Memang tidak semua, masih banyak sekolah formal yang memiliki program yang baik. Namun, masyarakat sulit untuk memilih. Dan dalam kasus-kasus tertentu ketika anak-anak mereka mengalami salah satu kejadian buruk di sekolah formal, maka homeschooling  menjadi alternatif pendidikan yang lebih mudah diakses.

Kedua, kebutuhan ruang belajar bagi anak-anak berkebutuhan khusus dan anak-anak berkesulitan belajar. Kedua kategori ini memiliki rentang variasi yang sangat luas. Mulai dari kasus paling ringan (slow learner) hingga kasus CP (Cerebral Palsy) yang menyebabkan kelumpuhan total. Sungguhpun anak-anak ini memiliki kekurangan, mereka tetap berhak menikmati pendidikan sesuai dengan karakteristiknya. Sekolah formal yang ada sangat jarang yang dapat mengakomodir kebutuhan anak-anak tersebut. Beberapa sekolah swasta membuka kelas inklusi dengan biaya yang sangat mahal, itupun dengan tempat yang sangat terbatas. Sedangkan kebutuhan dari tahun terus meningkat. Homeschooling, menyediakan tempat dengan tangan terbuka bagi anak-anak ini dengan atmosfer kekeluargaan yang hangat. Membentuk mereka memiliki jati diri dan percaya diri, jauh dari situasi yang memojokkan dan memarjinalkan mereka. Anak-anak berkebutuhan khusus juga termasuk anak-anak jenius, yang selalu membutuhkan stimulasi lebih dan lebih daripada anak-anak seusianya. Kebutuhan mereka mempelajari suatu ilmu jauh lebih tinggi dengan kecepatan yang juga jauh lebih cepat dari pada anak-anak pada umumnya. Ketika mereka harus dikumpulkan dengan anak-anak dengan IQ normal, maka rasa bosan dan frustrasi dapat mematahkan masa depan mereka. Terlebih lagi, secara umum sangat jarang ada sekolah formal yang mampu mengakomodir kebutuhan anak-anak jenius ini, sehingga lagi-lagi homeschooling menjadi pilihan.

Ketiga, keluarga dengan anak-anak bermasalah. Apakah anak-anak tersebut berasal dari keluarga broken home, berada pada masa rehabilitasi, anak-anak dengan masalah prilaku, juvenile delinquency, dan sebagainya. Mereka lebih membutuhkan atmosfer rumah yang nyaman, pendekatan persuasif yang hangat dan dapat menerima mereka apa adanya. Dan hal tersebut dapat diakomodir oleh Homeschooling.

Keempat, anak-anak berprestasi yang produktif. MIsalnya artis dan atlet. Anak-anak ini memiliki waktu “kerja” yang sangat ketat sehingga mereka akan kewalahan ketika harus mengikuti sistem sekolah formal. Homeschooling menjadi alternatif pendidikan agar mereka tetap dapat melanjutkan pendidikan tanpa harus meninggalkan karir yang mereka bangun sejak kecil. Dan itu adalah sebuah pilihan.

Tulisan ini hanya ingin memberikan gambaran singkat tentang siapa saja anak-anak dan praktisi yang terlibat dalam praktek homeschooling dan bagaimana homeschooling mendapat tempat di dalam masyarakat. Seperti kata seorang teman bahwa lebih banyak peserta homeschooling by accident, yaitu mengikuti program homeschooling sebagai pendidikan alternatif, bukan sebagai pilihan utama. Statement ini rasanya sudah dapat menjelaskan dengan gamblang bahwa homeschooling jelas-jelas lahir karena adanya kebutuhan bukan karena mengada-ada !

Salam, Asrillanoor

 

Hati-Hati Memilih Buku Pelajaran

Kasus buku pelajaran yang berisi konten atau materi yang tidak pantas untuk anak terulang lagi. Kali ini buku dengan judul “Aku Senang Belajar Bahasa Indonesia”, untuk SD MI kelas 6, Penyusun : Ade Khusnul dan M.Nur Arifin Editor :Asep Setiawan
edisi :cetakan pertama Maret 2013 Penerbit : CV Graphia Buana Alamat penerbit: Jalan Temanggung Wiradireja ,Tanah Baru, Bogor Utara ,Kota Bogor menuai getahnya.

Didalam buku tersebut terdapat cerita dewasa yang sangat tidak pantas dibaca oleh anak-anak, bahkan berbau pornografi. Ini bukan kasus pertama dalam dunia buku pelajaran anak-anak di Indonesia. Fatalnya lagi, buku ini adalah buku paket yang dipergunakan secara luas di sekolah-sekolah. Apabila sempat terbaca oleh anak-anak, tak terbayang efek negatif dari bacaan ini.

Untuk itu, para pendidik, guru, orang tua harus semakin kritis memilih buku-buku yang dipergunakan oleh sekolah. Karena pada akhirnya masyarakat harus tahu bahwa kendali mutu perbukuan di dunia pendidikan kita sangat lemah, maka masyarakat harus lebih kritis memilah dan memilih mana buku yang layak dijadikan pegangan di sekolah. Kritisi kembali partner penerbit dengan sekolah apakah buku-bukunya layak dipergunakan atau tidak.

Tugas kita sebagai pendidik, guru dan orang tua untuk menyelamatkan masa depan anak bangsa dengan mengawasi kualitas bacaan yang dibaca oleh anak-anak.