Tag Archives: perilaku

Pendidikan Keluarga Dalam Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Oleh :  Zaitu Asrilla

Karaktervorming dan Sociale Opvoeding
Berikanlah satu hari kepada Keluarga

Jauh sebelum hingar bingar dan maraknya pemikiran sekolah alternatif homeschooling, sesungguhnya Ki Hadjar Dewantara beberapa dekade lalu sudah memikirkan dengan sungguh-sungguh tentang pendidikan keluarga.

Bagi Ki Hadjar, keluarga yaitu kumpulnya beberapa orang yang terikat oleh satu turunan lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai satu gabungan yang khak, pun berkehendak juga bersama-sama memperteguh gabungan itu untuk kemuliaan satu-satunya dan semua anggauta. Di dalam hidup keluarga terdapatlah aturan yang berdasarkan cinta-kasih (yakni Gusti yang tak terlihat), menuju tertib dan damai buat persatuannya, selamat dan bahagia buat masing-masing anggautanya, sedangkan bersatunya keluarga selalu diutamakan.

Continue reading

Advertisements

Leave a comment

Filed under Zedutopia Program Belajar Khusus

Membangun Akhlak Mulia Pada Anak Usia Dini

“Janganlah anak dibatasi dengan satu lingkungan pergaulan yang satu macam saja untuk penyembuhan dan perbaikan kebiasaan hidupnya. Karena anak-anak memiliki perbedaan-perbedaan watak dan pembawaannya, serta usia dan lingkungannya. Sebagaimana halnya seorang dokter jika menyembuhkan pasien-pasiennya dengan satu macam obat maka akan matilah kebanyakan mereka mengalami kematian, begitu pula seorang pendidik, jika mengajar murid-muridnya hanya dengan satu latihan maka akan merusak mereka; dan mematikan pikiran mereka. Oleh karenanya hendaklah pendidikan memperhatikan penyakit murid dan perilakunya, usianya serta baik dari segi bakat pembawaannya, juga kemampuan jiwanya untuk melakukan latihan yang diberikan kepadanya, sehingga dengan latihan yang diberikan kepada mereka benar-benar sebagai mata usaha pembina.” (Al-Gazzaly dalam Perbandingan Pendidikan Islam, Ali Al-Jumbulati & Abdul Futuh At-Tuwaanisi, 2002).

Demikianlah  Al-Gazzaly  melihat perbedaan individual dalam pendidikan anak. Dapat disarikan bahwa yang terpenting dalam pendidikan adalah pembentukan watak, sehingga membentuk watak adalah tugas utama seorang guru dalam membentuk kepribadian anak. Mungkin ada sebagian anak-anak yang sudah mendapat latihan perilaku di dalam keluarganya. Dalam hal ini tugas guru pastinya akan lebih ringan. Namun pada kenyataannya, guru banyak dihadapkan pada perilaku anak yang kurang baik bahkan ekstrem sehingga tugas guru untuk membentuk perilakunya menjadi berlipat.

Pertanyaannya sejak kapan perilaku yang baik harus dilatih ? Jawabannya adalah sejak anak lahir dan peran orang tualah yang paling utama dalam membentuk perilaku anak. Namun, jika sudah anak sudah “terlanjur” menikmati “kebebasan” tanpa mendapatkan latihan perilaku dari orang tua maka tugas gurulah untuk membenahinya.

Perilaku akan lebih mudah dilatih sejak usia dini, sehingga pembentukan watak dan karakter sudah dapat dipupuk sejak dini. Semakin muda anak mengenal akhlak mulia, maka semakin mudah guru dan orang tua mengarahkan perilakunya ketika mereka dewasa.

Dalam hal ini, Al-Gazzaly menyampaikan bahwa cara atau metode untuk membentuk perilaku tidak sama antara satu anak dengan anak yang lain. Namun, guru dapat menetapkan rambu-rambu mengenai perilaku apa saja yang akan dilatih sesuai dengan usia dan tahap perkembangan anak.

Menyambung tulisan ini maka penulis secara bertahap akan mengemukakan gagasan-gagasan mengenai indikator-indikator dalam melatih perilaku menuju akhlak mulia untuk anak usia 2-6 tahun, serta metode dan cara yang dapat diterapkan guru dan  juga orang tua  dalam menghadapi perilaku anak dan melatih perilakunya sehingga terbentuk kebiasaan yang baik. Semoga bermanfaat.

Salam, Asrillanoor.

Leave a comment

Filed under Uncategorized