Tag Archives: pendidikan

Image

Zedutopia – Program Belajar Khusus

zedutopia (2)

Advertisements

Teachers Training for Early Childhood Center

paket pelatihan guru paudPlease, contact +628176978136

Pendidikan Keluarga Dalam Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Oleh :  Zaitu Asrilla

Karaktervorming dan Sociale Opvoeding
Berikanlah satu hari kepada Keluarga

Jauh sebelum hingar bingar dan maraknya pemikiran sekolah alternatif homeschooling, sesungguhnya Ki Hadjar Dewantara beberapa dekade lalu sudah memikirkan dengan sungguh-sungguh tentang pendidikan keluarga.

Bagi Ki Hadjar, keluarga yaitu kumpulnya beberapa orang yang terikat oleh satu turunan lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai satu gabungan yang khak, pun berkehendak juga bersama-sama memperteguh gabungan itu untuk kemuliaan satu-satunya dan semua anggauta. Di dalam hidup keluarga terdapatlah aturan yang berdasarkan cinta-kasih (yakni Gusti yang tak terlihat), menuju tertib dan damai buat persatuannya, selamat dan bahagia buat masing-masing anggautanya, sedangkan bersatunya keluarga selalu diutamakan.

Continue reading

Tujuh Azas Taman Siswa

Sekedar mengingatkan kita semua bahwa sejak lebih dari satu abad yang lalu sesungguhnya telah lahir sebuah pemikiran dan gerakan pendidikan yang pro-rakyat, penuh dengan keberpihakan pada bangsa dan membumi. Pemikiran Ki Hajar Dewantara yang diterjemahkan dalam Perguruan Taman Siswa sesungguhnya meletakkan dasar-dasar pendidikan bangsa yang sesungguhnya.  Sebuah pola pendidikan yang meletakkan dasar-dasar kebangsaan dan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Kiranya, kita perlu mengingatkan diri sendiri bahwa filosofi pendidikan yang diletakkan oleh Ki Hajar seharusnya menjadi spirit pendidikan di Indonesia saat ini.

Pemikiran Ki Hajar tentang pendidikan yang diaktualisasikan di dalam Perguruan Taman Siswa adalah bukti betapa majunya pemikiran pemimpin bangsa pada masa itu. Pendidikan pada masa itu dilaksanakan untuk membangun karakter bangsa sehingga masyarakat memiliki jati diri yang kuat sebagai bagian dari suatu bangsa. Justru  sangat disayangkan di dalam era modernisasi seperti sekarang ini dekadensi pemikiran dan praktek pendidikan semakin jauh dari filosofi pendidikan itu sendiri.  Kebobrokan sistem pendidikan yang  diterapkan selama ini tercermin pada perilaku anak-anak bangsa sendiri. Korupsi, tawuran, kemalasan, ketidakpedulian, perilaku pendidik yang tidak mendidik, kriminalitas, mental pengemis, hilangnya rasa toleransi dan sederet masalah sosial yang masih seperti benang kusut tidak ketahuan ujung pangkalnya.  Sehingga secara gamblang dan kasat mata dapat disimpulkan ada kerusakan dalam sistem pendidikan yang selama ini diterapkan.

Mengapa bisa diambil kesimpulan sedemikian ? Sebab pada hakekatnya, pendidikan memiliki misi untuk membuat orang yang tidak tahu menjadi tahu, membuat orang memahami diri sendiri, hidup berdampingan dengan orang lain, dan kelak menjadi bijaksana karena pengetahuan yang dimilikinya. Namun ternyata hal tersebut secara mayoritas belum terjadi di Indonesia. Mungkin baru sebagaian kecil masyarakat yang dapat menikmati pendidikan yang mampu membentuk manusia seutuhnya.

Padahal, azas-azas yang diterapkan pada Perguruan Taman Siswa lebih dari satu abad yang lalu telah memberikan arahan tentang sistem dan cara pendidikan serta tata pergaulan hidup yang dapat membentuk kehidupan manusia baru yang bahagia, damai dan tertib.  Ada 7 (tujuh) azas yang diberikan Ki Hajar Dewantara pada Taman Siswa yaitu :

1. Azas pertama adalah mengatur diri sendiri. Hak mengatur diri sendiri berdiri bersama dengan tertib dan damai dan bertumbuh menurut kodrat. Ketiga hal ini merupakan dasar alat pendidikan bagi anak-anak yang disebut among metode.

Pertanyaannya , sudahkah para pendidik anak-anak kita memahaminya ?

2. Azas kedua adalah kemerdekaan batin, pikiran dan tenaga bagi anak-anak. Maka pengajaran berarti mendidik anak untuk mencari sendiri ilmu pengetahuan yang perlu dan baik untuk lahir, batin dan umum. Oleh karena itu, guru tidak dibenarkan untuk selalu memberi ilmu pengetahuan, tetapi juga harus diusahakan bahwa guru mampu mendidik anak-anak untuk mandiri dan merdeka.

Pertanyaannya, seberapa besar kesempatan yang kita berikan pada anak-anak didik kita untuk belajar dari sumber-sumber lain selain Buku Paket dan LKSnya ? Seberapa banyak pendidik yang membebaskan anak-anak untuk memberi jawaban diluar teks Buku Paket dan LKSnya ? Seberapa besar anak-anak kita diberi kesempatan untuk bertanya tentang dunia diluar Buku Paket dan LKSnya ?

3. Azas ketiga adalah kebudayaan sendiri. Kebudayaan sendiri dimaksudkan sebagai penunjuk jalan untuk mencari penghidupan baru yang selaras dengan kodrat bangsa dan yang akan dapat memberi kedamaian dalam hidup bangsa. Pada azas ketiga juga terkandung makna pendidikan yang tidak boleh memisahkan orang-orang terpelajar dari rakyatnya.

Pertanyaannya, berapa banyak akademisi kita yang menjadi elitis dan berjarak dengan masyarakat dan hanya mampu memberi komentar di televisi tanpa mampu memberi kontribusi nyata pada masyarakat?  Berapa banyak sarjana yang tidak pernah kembali ke desanya dan lebih memilih menjadi karyawan di kota-kota besar dengan iming-iming gaji besar dan kehidupan mewah yang individualistik ?

4. Azas keempat adalah pendidikan yang merakyat. Pendidikan dan pengajaran harus mengena rakyat secara luas. Sebab, hanya dengan cara itu ketertinggalan masyarakat pribumi dapat dihilangkan.

Pada poin ini, kebijakan pemerintah untuk menggratiskan sekolah agar dapat dijangkau oleh semua masyarakat perlu diapresiasi. Hanya saja masalah kualitas pendidikan yang masih jauh tertinggal selalu harus dikritisi dan ditingkatkan mutunya setiap saat agar tidak terjadi kondisi bahwa pendidikan yang berkualitas yang dapat dijangkau oleh kalangan elitis saja.

5. Azas kelima adalah percaya pada kekuatan sendiri. Ini adalah azas yang penting bagi semua orang yang ingin mengejar ketertinggalannya dan meraih kemerdekaan hidup. Dan itu dapat terwujud melalui kerja yang berasal dari kekuatan sendiri.

Sebuah otokritik terhadap kepribadian bangsa Indonesia yang kurang percaya diri menghadapi bangsa asing hingga sekarang. Seakan-akan bangsa asing selalu lebih unggul ketimbang sumber daya manusia bangsa sendiri.  Mentalitas yang kurang percaya pada kekuatan diri sendiri kemudian pasrah menjadi sub-ordinat ketika orang asing masuk dan mempengaruhi. Pendidikan bangsa yang sesungguhnya harus mampu melepaskan belenggu ketidakpercayaan diri kemudian memerdekakan masyarakat agar dapat keluar dari perasaan inferioritas dan memberi keyakinan bahwa kitalah pemilik tunggal kekayaan bangsa dan negara Indonesia.

6. Azas keenam adalah membelanjai diri sendiri. Azas ini sangat dekat dengan azas kelima. Pada azas ini segala usaha untuk perubahan harus menggunakan biaya sendiri.

Inilah filosofi dari ekonomi kerakyatan. Intervensi ekonomi dari pihak asing membuat negara akan terus menerus didikte oleh pihak pemberi dana.  Sebaliknya, jika bangsa ini secara mandiri memperkuat sistem ekonominya sendiri dengan usaha-usaha masyarakat  dan mampu mengoptimalkan seluruh sumber daya yang ada maka intervensi akan sulit terjadi dan masyarakat akan menjadi sejahtera dan mampu menentukan nasibnya sendiri.  Pertanyaannya, apakah hal tersebut sudah terjadi pada negara ini ?

7.  Azas terakhir adalah keikhlasan dari para pendidik dan pengajar dalam mendidik anak-anak. Hanya dengan kesucian hati dan keterikatan lahir batinlah usaha pendidikan dan pengajaran dapat berhasil.

Pendidik atau guru memang sebuah profesi. Namun didalamnya juga sarat dengan nilai kemanusiaan dan kebangsaan. Profesi pendidik bukan profesi jual beli, tetapi pendidik bertugas membentuk karakter bangsa.  Hanya dengan kesadaran bahwa pendidik selalu membawa misi untuk membentuk karakter, sebuah sistem pendidikan akan berhasil.

******

Ketujuh Azas Taman Siswa diatas sesungguhnya juga telah mengatur beberapa aspek kehidupan berbangsa bernegara, salah satunya adalah penerapan ekonomi kerakyatan. Secara mendalam juga telah dipikirkan bagaimana pendidikan untuk anak dan masyarakat harus dilaksanakan.

Pemikiran-pemikiran Ki Hajar Dewantara mungkin sudah banyak dilupakan di zaman serba modern ini, padahal esensinya masih sangat relevan untuk diterapkan bahkan mungkin dapat menjadi jalan keluar atas bobroknya perilaku masyarakat akhir-akhir ini. Dan Ki Hajar mengawali seluruh Azas Perguruan Taman Siswa dengan menitikberatkan pada pendidikan anak. Maka benarlah bahwa “mendidik anak adalah juga mendidik rakyat”.

Pertanyaannya, sudahkah kita mendidik anak-anak kita dengan benar ?

Salam, Asrillanoor

Kebutuhan Dasar Anak

Usia paling rawan adalah usia balita, karena pada masa ini anak mudah terserang penyakit, mudah terjadi kurang gizi secara fisik dan imunitas tubuhnya belum sempurna. Lebih dari itu, masa balita merupakan dasar pembentukan kepribadian anak sehingga memerlukan perhatian khusus.

Faktor-faktor psikososial yang dapat mempengaruhi perkembangan masa balita antara lain adalah faktor-faktor stimulasi, motivasi, ganjaran dan hukuman yang wajar, hubungan  dengan teman-teman sebaya, stress, sekolah, cinta dan kasih sayang, serta kualitas interaksi anak dan orang tua.

Kebutuhan dasar anak digolongkan menjadi tiga kebutuhan dasar yaitu :

1. kebutuhan fisik yang meliputi pangan dan pemenuhan gizi, perawatan kesehatan dasar, pemberian ASI dan imunisasi, serta pengobatan di kala sakit. Kemudian tempat tinggal yang layak, kebersihan diri dan lingkungan, pakaian yang layak dan rekreasi.

2. Kebutuhan afeksi. Pada tahun-tahun pertama kehidupan, hubungan yang erat, mesra dan selaras antara ibu atau pengganti ibu dengan anak merupakan syarat mutlak untuk menjamin tumbuh kembang anak selaras baik fisik, mental dan psikososialnya.  Peran ibu atau pengganti ibu sedini mungkin dan selanggeng mungkin akan menjalin rasa aman bagi bayi. Inisiasi dini dan menyusui bayi sesegera mungkin setelah bayi lahir adalah upaya mempererat ikatan antara ibu dan bayi. Kekurangan kasih sayang ibu atau pengganti ibu pada tahun-tahun pertama kelahiran mempunyai damapk negatif pada proses tumbuh kembangnya baik secara fisik, mental maupun sosial emosional. Kasih sayang ibu (orang tua)  merupakan fondasi dasar pembentukan kepercayaan diri individu pada saat kelak ia dewasa.

3. Stimulasi mental merupakan cikal bakal proses belajar (pendidikan dan pelatihan) pada anak . Stimulasi mental ini memperkuat pengembangan mental psikososial : kecerdasan, keterampilan, kemandirian, kreativitas, spiritualitas, kepribadian, moral-etika, etos kerja dan sebagainya.

Kebutuhan dasar anak selama periode masa emas, dapat dipenuhi oleh keluarga. Menurut Eric Ericson, hubungan sosial terpenting pada anak usia 2-3 tahun adalah dengan orang tuanya. Sedangkan hubungan sosial terpenting pada usia 3-5 tahun adalah dengan keluarga dasarnya. Dengan dasar pemikiran ini maka sesungguhnya interaksi paling penting yang dibutuhkan anak-anak pada periode masa emas adalah dengan keluarga intinya. Keberhasilan pembentukan moral dan perilaku individu juga ditentukan dalam periode ini, sehingga peran orang tua sangat penting bagi pembentukan karakter anak-anaknya. Hal inilah yang menjadi dasar bahwa pendidikan yang pertama adalah keluarga dan keluargalah yang memegang peranan penting dalam membentuk karakter dasar seorang manusia.

Penulis, Asrilla Noor.