Tag Archives: keluarga

Belajar Bareng Dengan Santri Anak Jalanan

IMG_20141207_111601

Berbagi, punya banyak bentuk kegiatan. Salah satunya yang sudah dilakukan oleh Ms.Sharon (Family Care Indonesia) dan Ibu Asrilla (Zairahaes Foundation) dengan Yayasan Pazki. Yayasan Pazki mengasuh dan membina anak-anak jalanan mendapat pendidikan dan keterampilan agar tidak kembali ke jalan. Dalam kesempatan ini Ms. Sharon mengajarkan bagaimana melatih anak-anak usia dini dengan metode Glenn Doman. Sementara ibu Asrilla memaparkan cara bermain sambil belajar untuk anak-anak usia dini. Diharapkan anak-anak yang lebih besar dapat menjadi tutor sebaya bagi adik-adiknya yang masih berusia dini.

 

Leave a comment

Filed under Zedutopia Program Belajar Khusus

Pendidikan Keluarga Dalam Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Oleh :  Zaitu Asrilla

Karaktervorming dan Sociale Opvoeding
Berikanlah satu hari kepada Keluarga

Jauh sebelum hingar bingar dan maraknya pemikiran sekolah alternatif homeschooling, sesungguhnya Ki Hadjar Dewantara beberapa dekade lalu sudah memikirkan dengan sungguh-sungguh tentang pendidikan keluarga.

Bagi Ki Hadjar, keluarga yaitu kumpulnya beberapa orang yang terikat oleh satu turunan lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai satu gabungan yang khak, pun berkehendak juga bersama-sama memperteguh gabungan itu untuk kemuliaan satu-satunya dan semua anggauta. Di dalam hidup keluarga terdapatlah aturan yang berdasarkan cinta-kasih (yakni Gusti yang tak terlihat), menuju tertib dan damai buat persatuannya, selamat dan bahagia buat masing-masing anggautanya, sedangkan bersatunya keluarga selalu diutamakan.

Continue reading

Leave a comment

Filed under Zedutopia Program Belajar Khusus

Klasifikasi Kesulitan Belajar

Membuat klasifikasi kesulitan belajar tidak mudah karena kesulitan belajar merupakan kelompok kesulitan yang heterogen. Tidak seperti tunarungu, tunanetra, atau tunagrahita yang bersifat homogen, kesulitan belajar memiliki banyak tipe yang masing-masing memerlukan diagnosis dan program pembekalan peran yang berbeda-beda.

Identifikasi terhadap tipe kesulitan belajar adalah hal yang mutlak dilakukan untuk mengenali kesulitan belajar apa yang dialami oleh anak. Apabila identifikasi tipe kesulitan belajar dilakukan dengan tepat, maka guru dapat mendesain program pembelajaran yang tepat bagi setiap tipe kesulitan belajar yang dialami anak.

Secara garis besar kesulitan belajar dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok yaitu :

1. kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan (developmental learning disabilities) dan

2. kesulitan belajar akademik ( academic learning disabilities).

Kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan mencakup gangguan motorik dan persepsi, kesulitan belajar bahasa dan komunikasi dan kesulitan belajar dalam penyesuaian perilaku sosial.

Kesulitan belajar akademik menunjuk pada adanya kegagalan-kegagalan pencapaian prestasi akademik yang sesuai dengan kapasitas yang diharapkan. Kegagalan-kegagalan tersebut mencakup penguasaan keterampilan membaca, menulis dan/atau matematika.

Meskipun beberapa kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan sering berkaitan dengan kegagalan dalam pencapaian prestasi akademik, hubungan antara keduanya tidak selalu jelas. Ada anak yang gagal dalam belajar membaca yang menunjukkan ketidakmampuan dalam fungsi-fungsi perseptual motor, tetapi ada pula yang dapat belajar membava meskipun memiliki ketidakmampuan dalam fungsi-fungsi perseptual motor.

Referensi : Abdurrahman, Mulyono. Anak Berkesulitan Belajar Teori Diagnosis Dan Remediasinya. Jakarta : Rineka Cipta, 2012.

Leave a comment

Filed under Zedutopia Program Belajar Khusus

Anak Dengan Kesulitan Belajar

Pengertian tentang anak kesulitan belajar sangat diperlukan karena dalam kehidupan sehari-hari sering ditemukan adanya penggunaan istilah secara keliru. Banyak orang, termasuk sebagian besar guru, tidak dapat membedakan antara kesulitan belajar, lambat belajar dan tuna grahita.

Kesulitan belajar merupakan terjemahan dari istilah bahasa Inggris Learning Disability.Kesulitan belajar merupakan suatu konsep multidisipliner yang digunakan di lapangan ilmu pendidikan, psikologi maupun ilmu kedokteran. Pada tahun 1963 Samuel A. Kirk untuk pertama kali menyarankan penyatuan nama-nama gangguan anak seperti disfungsi otak minimal, gangguan neurologis, disleksia, dan afasia perkembangan menjadi satu nama, kesulitan belajar. Konsep tersebut telah diadopsi secara luar dan pendekatan edukatif terhadap kesulitan belajar telah berkembang secara cepat, terutama di negara-negara yang sudah maju.

sulitbelajar

Definisi kesulitan belajar menurut The National Joint Committee For Learning Disabilities (NJCLD) adalah sebagai berikut :

Kesulitan belajar menunjuk pada sekelompok kesulitan yang dimanifestasikan dalam bentuk kesulitan yang nyata dalam kemahiran dan penggunaan kemampuan mendengarkan, bercakap-cakap, membaca, menulis, menalar, atau kemampuan dalam bidang studi matematika. Gangguan tersebut intrinsik dan diduga disebabkan oleh adanya disfungsi sistem saraf pusat. Meskipun suatu kesulitan belajar mungkin terjadi bersamaan dengan adanya kondisi lain yang mengganggu (misalnya gangguan sensoris, tuna grahita, hambatan sosial dan emosional) atau berbagai pengaruh lingkungan (misalnya perbedaan budaya, pembelajaran yang tidak tepat, faktor-faktor psikogenik), berbagai hambatan tersebut bukan penyebab atau pengaruh langsung.

Sumber : Abdurrahman, Mulyono. Anak Berkesulitan Belajar. Teori, Diagnosis dan Remediasinya. Jakarta : Rineka Cipta, 2012.

Leave a comment

Filed under Zedutopia Program Belajar Khusus

Egosentris Anak Batita

Oleh : Zaitu Asrilla

Periode usia 18 bulan hingga 24 bulan adalah masa-masa yang sangat menakjubkan. Ada banyak kejutan yang ditampilkan si kecil dalam setiap perilakunya, termasuk perilaku cerdas yang menjengkelkan. Memasuki usia 18 bulan, si batita sudah mulai menunjukkan ke-Aku-annya. Mereka bahkan sudah mulai memperlihatkan rasa kepemilikan terutama terhadap orang terdekat atau mainan kesayangannya.

Si batita akan mulai menunjukkan keinginan dan berkeras terhadap keinginan tersebut terutama bila keinginannya dihalangi. Tak jarang, tantrum terjadi akibat si kecil gagal mendapatkan apa yang diinginkannya. Buat si batita, semua hal terpusat pada dirinya, terutama perhatian ibunya. Tak jarang si kecil marah atau menangis bila ibu berdekatan dengan anak lain atau memberikan perhatian lebih pada kakaknya atau anggota keluarga lain. Si batita masih jarang mau berbagi dan dapat menunjukkan rasa marah jika ada orang lain yang ingin ikut memainkan mainannya.

Periode ini akan terlampaui dengan sendirinya dan anak akan belajar berbagi jika orang tua dan anggota keluarga lainnya rajin memberikan stimulasi sosial dan mengajarkan anak berbagi. Bahaya terjadi apabila orang tua tidak memberi kesempatan anak untuk bersosialisasi dan menjadikan anak “center of the universe” dalam periode yang panjang. Bila hal demikian terjadi, egosentris anak akan terpupuk hingga usia lebih besar dan dapat membentuk anak menjadi pribadi yang egois. Oleh karenanya, walaupun periode egosentris adalah alami dilampaui pada masa batita, stimulus sosial yang mengajarkan batita untuk berbagi tetap harus dilakukan agar anak dapat belajar berbagi dan memiliki keterampilan sosial sesuai dengan usianya.

Leave a comment

Filed under Zedutopia Program Belajar Khusus