Tag Archives: indonesia

Pendidikan Keluarga Dalam Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Oleh :  Zaitu Asrilla

Karaktervorming dan Sociale Opvoeding
Berikanlah satu hari kepada Keluarga

Jauh sebelum hingar bingar dan maraknya pemikiran sekolah alternatif homeschooling, sesungguhnya Ki Hadjar Dewantara beberapa dekade lalu sudah memikirkan dengan sungguh-sungguh tentang pendidikan keluarga.

Bagi Ki Hadjar, keluarga yaitu kumpulnya beberapa orang yang terikat oleh satu turunan lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai satu gabungan yang khak, pun berkehendak juga bersama-sama memperteguh gabungan itu untuk kemuliaan satu-satunya dan semua anggauta. Di dalam hidup keluarga terdapatlah aturan yang berdasarkan cinta-kasih (yakni Gusti yang tak terlihat), menuju tertib dan damai buat persatuannya, selamat dan bahagia buat masing-masing anggautanya, sedangkan bersatunya keluarga selalu diutamakan.

Continue reading

Leave a comment

Filed under Zedutopia Program Belajar Khusus

Permainan Anak-Anak Sebagai Stimulasi Taman Bacaan Masyarakat

Menyikapi minat baca masyarakat yang rendah di wilayah perkotaan, TBM sudah seyogyanya melakukan terobosan-terobosan untuk merangsang minat baca masyarakat. Sebelum sampai pada pembiasaan membaca itu sendiri, TBM harus dapat merangsang masyarakat untuk datang ke taman bacaan itu sendiri.

Continue reading

Leave a comment

Filed under Zedutopia Program Belajar Khusus

Tips : Role Model

If you want your children to have good manner, than you have to be their role model because children imitates everything they see.

This statement about role model is easy to say but come as a challenge for adult. Here, in adults world, everything is allowed to do. We are no longer live with too many rules, we live as a free human being. But not for the children. They still learn about what they may and may not, ethics, norm, and many forbidden things for them.

How can we as adult could perform exactly like a child does ?

We can say ” No” to a child but actually we do that “No things” in front of them. Pretty challenging isn’t ?

So, what should we do then ? Explaining to a small child about this is not an easy way. Anyway, at least we can put positive habits in our life to show the children that we are performing good behavior. And when you want to be naughty, make sure you don’t do it in front of them. Good luck !

by Zaitu Asrilla

Leave a comment

Filed under Zedutopia Program Belajar Khusus

Tujuh Azas Taman Siswa

Sekedar mengingatkan kita semua bahwa sejak lebih dari satu abad yang lalu sesungguhnya telah lahir sebuah pemikiran dan gerakan pendidikan yang pro-rakyat, penuh dengan keberpihakan pada bangsa dan membumi. Pemikiran Ki Hajar Dewantara yang diterjemahkan dalam Perguruan Taman Siswa sesungguhnya meletakkan dasar-dasar pendidikan bangsa yang sesungguhnya.  Sebuah pola pendidikan yang meletakkan dasar-dasar kebangsaan dan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Kiranya, kita perlu mengingatkan diri sendiri bahwa filosofi pendidikan yang diletakkan oleh Ki Hajar seharusnya menjadi spirit pendidikan di Indonesia saat ini.

Pemikiran Ki Hajar tentang pendidikan yang diaktualisasikan di dalam Perguruan Taman Siswa adalah bukti betapa majunya pemikiran pemimpin bangsa pada masa itu. Pendidikan pada masa itu dilaksanakan untuk membangun karakter bangsa sehingga masyarakat memiliki jati diri yang kuat sebagai bagian dari suatu bangsa. Justru  sangat disayangkan di dalam era modernisasi seperti sekarang ini dekadensi pemikiran dan praktek pendidikan semakin jauh dari filosofi pendidikan itu sendiri.  Kebobrokan sistem pendidikan yang  diterapkan selama ini tercermin pada perilaku anak-anak bangsa sendiri. Korupsi, tawuran, kemalasan, ketidakpedulian, perilaku pendidik yang tidak mendidik, kriminalitas, mental pengemis, hilangnya rasa toleransi dan sederet masalah sosial yang masih seperti benang kusut tidak ketahuan ujung pangkalnya.  Sehingga secara gamblang dan kasat mata dapat disimpulkan ada kerusakan dalam sistem pendidikan yang selama ini diterapkan.

Mengapa bisa diambil kesimpulan sedemikian ? Sebab pada hakekatnya, pendidikan memiliki misi untuk membuat orang yang tidak tahu menjadi tahu, membuat orang memahami diri sendiri, hidup berdampingan dengan orang lain, dan kelak menjadi bijaksana karena pengetahuan yang dimilikinya. Namun ternyata hal tersebut secara mayoritas belum terjadi di Indonesia. Mungkin baru sebagaian kecil masyarakat yang dapat menikmati pendidikan yang mampu membentuk manusia seutuhnya.

Padahal, azas-azas yang diterapkan pada Perguruan Taman Siswa lebih dari satu abad yang lalu telah memberikan arahan tentang sistem dan cara pendidikan serta tata pergaulan hidup yang dapat membentuk kehidupan manusia baru yang bahagia, damai dan tertib.  Ada 7 (tujuh) azas yang diberikan Ki Hajar Dewantara pada Taman Siswa yaitu :

1. Azas pertama adalah mengatur diri sendiri. Hak mengatur diri sendiri berdiri bersama dengan tertib dan damai dan bertumbuh menurut kodrat. Ketiga hal ini merupakan dasar alat pendidikan bagi anak-anak yang disebut among metode.

Pertanyaannya , sudahkah para pendidik anak-anak kita memahaminya ?

2. Azas kedua adalah kemerdekaan batin, pikiran dan tenaga bagi anak-anak. Maka pengajaran berarti mendidik anak untuk mencari sendiri ilmu pengetahuan yang perlu dan baik untuk lahir, batin dan umum. Oleh karena itu, guru tidak dibenarkan untuk selalu memberi ilmu pengetahuan, tetapi juga harus diusahakan bahwa guru mampu mendidik anak-anak untuk mandiri dan merdeka.

Pertanyaannya, seberapa besar kesempatan yang kita berikan pada anak-anak didik kita untuk belajar dari sumber-sumber lain selain Buku Paket dan LKSnya ? Seberapa banyak pendidik yang membebaskan anak-anak untuk memberi jawaban diluar teks Buku Paket dan LKSnya ? Seberapa besar anak-anak kita diberi kesempatan untuk bertanya tentang dunia diluar Buku Paket dan LKSnya ?

3. Azas ketiga adalah kebudayaan sendiri. Kebudayaan sendiri dimaksudkan sebagai penunjuk jalan untuk mencari penghidupan baru yang selaras dengan kodrat bangsa dan yang akan dapat memberi kedamaian dalam hidup bangsa. Pada azas ketiga juga terkandung makna pendidikan yang tidak boleh memisahkan orang-orang terpelajar dari rakyatnya.

Pertanyaannya, berapa banyak akademisi kita yang menjadi elitis dan berjarak dengan masyarakat dan hanya mampu memberi komentar di televisi tanpa mampu memberi kontribusi nyata pada masyarakat?  Berapa banyak sarjana yang tidak pernah kembali ke desanya dan lebih memilih menjadi karyawan di kota-kota besar dengan iming-iming gaji besar dan kehidupan mewah yang individualistik ?

4. Azas keempat adalah pendidikan yang merakyat. Pendidikan dan pengajaran harus mengena rakyat secara luas. Sebab, hanya dengan cara itu ketertinggalan masyarakat pribumi dapat dihilangkan.

Pada poin ini, kebijakan pemerintah untuk menggratiskan sekolah agar dapat dijangkau oleh semua masyarakat perlu diapresiasi. Hanya saja masalah kualitas pendidikan yang masih jauh tertinggal selalu harus dikritisi dan ditingkatkan mutunya setiap saat agar tidak terjadi kondisi bahwa pendidikan yang berkualitas yang dapat dijangkau oleh kalangan elitis saja.

5. Azas kelima adalah percaya pada kekuatan sendiri. Ini adalah azas yang penting bagi semua orang yang ingin mengejar ketertinggalannya dan meraih kemerdekaan hidup. Dan itu dapat terwujud melalui kerja yang berasal dari kekuatan sendiri.

Sebuah otokritik terhadap kepribadian bangsa Indonesia yang kurang percaya diri menghadapi bangsa asing hingga sekarang. Seakan-akan bangsa asing selalu lebih unggul ketimbang sumber daya manusia bangsa sendiri.  Mentalitas yang kurang percaya pada kekuatan diri sendiri kemudian pasrah menjadi sub-ordinat ketika orang asing masuk dan mempengaruhi. Pendidikan bangsa yang sesungguhnya harus mampu melepaskan belenggu ketidakpercayaan diri kemudian memerdekakan masyarakat agar dapat keluar dari perasaan inferioritas dan memberi keyakinan bahwa kitalah pemilik tunggal kekayaan bangsa dan negara Indonesia.

6. Azas keenam adalah membelanjai diri sendiri. Azas ini sangat dekat dengan azas kelima. Pada azas ini segala usaha untuk perubahan harus menggunakan biaya sendiri.

Inilah filosofi dari ekonomi kerakyatan. Intervensi ekonomi dari pihak asing membuat negara akan terus menerus didikte oleh pihak pemberi dana.  Sebaliknya, jika bangsa ini secara mandiri memperkuat sistem ekonominya sendiri dengan usaha-usaha masyarakat  dan mampu mengoptimalkan seluruh sumber daya yang ada maka intervensi akan sulit terjadi dan masyarakat akan menjadi sejahtera dan mampu menentukan nasibnya sendiri.  Pertanyaannya, apakah hal tersebut sudah terjadi pada negara ini ?

7.  Azas terakhir adalah keikhlasan dari para pendidik dan pengajar dalam mendidik anak-anak. Hanya dengan kesucian hati dan keterikatan lahir batinlah usaha pendidikan dan pengajaran dapat berhasil.

Pendidik atau guru memang sebuah profesi. Namun didalamnya juga sarat dengan nilai kemanusiaan dan kebangsaan. Profesi pendidik bukan profesi jual beli, tetapi pendidik bertugas membentuk karakter bangsa.  Hanya dengan kesadaran bahwa pendidik selalu membawa misi untuk membentuk karakter, sebuah sistem pendidikan akan berhasil.

******

Ketujuh Azas Taman Siswa diatas sesungguhnya juga telah mengatur beberapa aspek kehidupan berbangsa bernegara, salah satunya adalah penerapan ekonomi kerakyatan. Secara mendalam juga telah dipikirkan bagaimana pendidikan untuk anak dan masyarakat harus dilaksanakan.

Pemikiran-pemikiran Ki Hajar Dewantara mungkin sudah banyak dilupakan di zaman serba modern ini, padahal esensinya masih sangat relevan untuk diterapkan bahkan mungkin dapat menjadi jalan keluar atas bobroknya perilaku masyarakat akhir-akhir ini. Dan Ki Hajar mengawali seluruh Azas Perguruan Taman Siswa dengan menitikberatkan pada pendidikan anak. Maka benarlah bahwa “mendidik anak adalah juga mendidik rakyat”.

Pertanyaannya, sudahkah kita mendidik anak-anak kita dengan benar ?

Salam, Asrillanoor

Leave a comment

Filed under Zedutopia Program Belajar Khusus