Tag Archives: bersama

Ulasan Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 64 tahun 2013 Tentang Standar Isi Pendidikan Dasar Dan Menengah.

Permen no. 64 tahun 2013 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar Dan Menengah merupakan salah satu implementasi dari UU no. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas yang khusus mengatur tentang Standar Isi. Standar isi disusun agar dapat mencapai Standar Kompetensi Lulusan yang diatur didalam peraturan pemerintah yang lain.

Beberapa hal yang saya anggap penting dalam Permen no. 64 tahun 2013 ini adalah :

Pertama, tentang Tingkat Kompetensi dan Standar Isi itu sendiri. Tingkat Kompetensi yang diatur didalam Permen no. 64 tahun 2013 ini merupakan kriteria capaian kompetensi yang bersifat generik terdiri atar 8 jenjang. Jika dikatakan bahwa capaian kompetensi ini bersifat generik, artinya capaiannya masih bersifat umum, belum spesifik. Oleh karenanya baik target Kompetensi maupun Standar Isi harus dikembangkan dan dielaborasi secara lebih detil sehingga dapat menghasilkan suatu program atau kurikulum spesifik yang nantinya dapat diimplementasikan di sekolah dalam setiap satuan pembelajaran.

Kedua, dikatakan bahwa Tingkat Kompetensi TK/RA bukan merupakan prasyarat masuk kelas 1 (satu). Artinya jenjang pendidikan pra-sekolah tidak menjadi kriteria bagi seorang anak untuk masuk ke jenjang pendidikan dasar. Konsekuensinya, anak-anak dimanapun baik yang telah melampaui jenjang PAUD ataupun tidak, berhak masuk ke jenjang pendidikan dasar tanpa tes. Walaupun demikian harus diingat bahwa PAUD adalah pondasi awal dari proses pendidikan sehingga PAUD sendiri merupakan proses yang sangat penting dalam pendidikan. Namun, karena PAUD termasuk dalam pendidikan non formal dan informal sehingga tampaknya tidak diatur didalam Permen yang mengatur pendidikan formal.

Ketiga, adanya keterangan bahwa SDLB,SMPLB dan SMALB yang dimaksud hanya diperuntukkan bagi tuna netra, tuna rungu, tuna daksa dan tuna laras yang intelegensinya normal. Hal ini berarti Standar Isi ini tidak mencakup Standar Isi untuk anak-anak berkebutuhan khusus dan tidak dapat diberlakukan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Otomatis, evaluasi atau pengujian untuk anak-anak berkebutuhan khusus tidak dapat merujuk pada Permen no.64 tahun 2013 ini. Diperlukan aturan lain yang mengatur implementasi Standar Isi untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

Berikutnya, dapat kita lihat bahwa Standar Isi disusun berdasarkan taksonomi struktur capaian belajar terobservasi (SOLO Taxonomy). Dasar teori yang digunakan berbeda dengan KTSP yang merujuk pada Taxonomy Bloom. Berbeda dengan Taxonomy Bloom yang sudah lama kita kenal dan lebih menitikberatkan pada domain kognitif C1 – C6 (pengetahuan-pemahaman-penerapan-analisis-sintesis dan evaluasi), SOLO Taxonomy yang digunakan dalam Permen no. 64 tahun 2013 ini menerapkan level pemahaman yang lebih kompleks terhadap subjek atau capaian materi yang disusun dalam Standar Isi. Model yang digunakan merujuk pada lima tahap pemahaman mulai dari pre-structural, uni-structural, multi-structural, relational, extended-abstract yang dikembangkan oleh Biggs and Collis. Jika kita melihat jenjang pemahaman ini mulai dari tahapan pemahaman sederhana kemudian perlahan-lahan meningkat menjadi pemahaman yang lebih fokus, tingkat pemahaman yang lebih tinggi abstrak dan mampu melakukan generalisasi secara konseptual, maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir logis, rasional, kritis, mampu melakukan inkuiri atau pendalaman terhadap suatu hal, berpikir berdasarkan data empirik, akan menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi yang hendak dicapai dalam Tingkat Kompetensi yang ditetapkan oleh pemerintah.

Psychodelia, Illumination dan Creativity yang dikembangkan oleh Gowan and Erikson merupakan bagian dari tahap perkembangan orang dewasa. Dasar teori SOLO Taxonomy dan tahap perkembangan orang dewasa inilah yang digunakan sebagai dasar pengembangan Standar Isi yang digunakan pemerintah untuk menerapkan Kurikulum 2013 ini. Untuk memahami SOLO Taxonomy dan The Erikson-Piaget-Gowan Periodic Developmental Stage memerlukan pembahasan terpisah dari ulasan ini.

Selanjutnya, cakupan ranah kompetensi tetap merujuk pada tiga ranah utama yaitu sikap,pengetahuan dan keterampilan. Hanya saja terdapat penekanan lebih pada sikap spiritual dan sikap sosial yang memang saat ini sangat dibutuhkan untuk memperbaiki karakter bangsa yang sudah lama terdistorsi dan kehilangan jati dirinya. Kesimpulan yang dapat ditarik dari kompetensi yang secara generik diterapkan dalam TIngkat Kompetensi yang hendak dicapai dalam Kurikulum 2013 ini terdiri dari 4 (empat) dimensi yang merepresentasikan sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan dan keterampilan.

Muatan materi yang disuguhkan merupakan pendekatan tematik. Artinya konten dari sebuah subjek menjadi lebih kaya dan lebih luas, dalam satu subjek dapat mengandung empat dimensi spiritual, sosial, pengetahuan dan keterampilan. Matematika tidak hanya dilihat sebagai sebuah pengetahuan dan keterampilan berhitung an sich namun juga mengandung nilai sosial dan spiritual.

Dengan tuntutan Tingkat Kompetensi yang ditetapkan dalam Kurikulum 2013 ini, maka konsekuensi mutlaknya adalah sumber daya manusia yang menjadi ujung tombak dalam proses pendidikan harus mampu memahami dan menerapkan seluruh standar yang ditetapkan di dalam Kurikulum 2013. Keterampilan pendidik (baik pihak pengelola sekolah, guru, pihak-pihak lain yang terkait) harus mampu menjawab tantangan yang disuguhkan oleh Kurikulum 2013 ini, minimal mampu memahami dan menerapkan Permen no. 64 tahun 2013 tentang Standar Isi. Sebab Standar Isi inilah yang menjadi patokan para pendidik atau guru untuk mengimplementasikan proses pembelajaran di dalam kelas.

Demikian ulasan singkat mengenai Permen no. 64 tahun 2013 Tentang Standar Isi Pendidikan Dasar Dan Menengah. Harapan saya transformasi pendidikan formal dapat berjalan mulus sehingga dapat melahirkan generasi baru yang lebih unggul dan kompetitif di masa depan.

Salam,
Zaitu Asrilla

Leave a comment

Filed under Zedutopia Program Belajar Khusus

Tujuh Azas Taman Siswa

Sekedar mengingatkan kita semua bahwa sejak lebih dari satu abad yang lalu sesungguhnya telah lahir sebuah pemikiran dan gerakan pendidikan yang pro-rakyat, penuh dengan keberpihakan pada bangsa dan membumi. Pemikiran Ki Hajar Dewantara yang diterjemahkan dalam Perguruan Taman Siswa sesungguhnya meletakkan dasar-dasar pendidikan bangsa yang sesungguhnya.  Sebuah pola pendidikan yang meletakkan dasar-dasar kebangsaan dan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Kiranya, kita perlu mengingatkan diri sendiri bahwa filosofi pendidikan yang diletakkan oleh Ki Hajar seharusnya menjadi spirit pendidikan di Indonesia saat ini.

Pemikiran Ki Hajar tentang pendidikan yang diaktualisasikan di dalam Perguruan Taman Siswa adalah bukti betapa majunya pemikiran pemimpin bangsa pada masa itu. Pendidikan pada masa itu dilaksanakan untuk membangun karakter bangsa sehingga masyarakat memiliki jati diri yang kuat sebagai bagian dari suatu bangsa. Justru  sangat disayangkan di dalam era modernisasi seperti sekarang ini dekadensi pemikiran dan praktek pendidikan semakin jauh dari filosofi pendidikan itu sendiri.  Kebobrokan sistem pendidikan yang  diterapkan selama ini tercermin pada perilaku anak-anak bangsa sendiri. Korupsi, tawuran, kemalasan, ketidakpedulian, perilaku pendidik yang tidak mendidik, kriminalitas, mental pengemis, hilangnya rasa toleransi dan sederet masalah sosial yang masih seperti benang kusut tidak ketahuan ujung pangkalnya.  Sehingga secara gamblang dan kasat mata dapat disimpulkan ada kerusakan dalam sistem pendidikan yang selama ini diterapkan.

Mengapa bisa diambil kesimpulan sedemikian ? Sebab pada hakekatnya, pendidikan memiliki misi untuk membuat orang yang tidak tahu menjadi tahu, membuat orang memahami diri sendiri, hidup berdampingan dengan orang lain, dan kelak menjadi bijaksana karena pengetahuan yang dimilikinya. Namun ternyata hal tersebut secara mayoritas belum terjadi di Indonesia. Mungkin baru sebagaian kecil masyarakat yang dapat menikmati pendidikan yang mampu membentuk manusia seutuhnya.

Padahal, azas-azas yang diterapkan pada Perguruan Taman Siswa lebih dari satu abad yang lalu telah memberikan arahan tentang sistem dan cara pendidikan serta tata pergaulan hidup yang dapat membentuk kehidupan manusia baru yang bahagia, damai dan tertib.  Ada 7 (tujuh) azas yang diberikan Ki Hajar Dewantara pada Taman Siswa yaitu :

1. Azas pertama adalah mengatur diri sendiri. Hak mengatur diri sendiri berdiri bersama dengan tertib dan damai dan bertumbuh menurut kodrat. Ketiga hal ini merupakan dasar alat pendidikan bagi anak-anak yang disebut among metode.

Pertanyaannya , sudahkah para pendidik anak-anak kita memahaminya ?

2. Azas kedua adalah kemerdekaan batin, pikiran dan tenaga bagi anak-anak. Maka pengajaran berarti mendidik anak untuk mencari sendiri ilmu pengetahuan yang perlu dan baik untuk lahir, batin dan umum. Oleh karena itu, guru tidak dibenarkan untuk selalu memberi ilmu pengetahuan, tetapi juga harus diusahakan bahwa guru mampu mendidik anak-anak untuk mandiri dan merdeka.

Pertanyaannya, seberapa besar kesempatan yang kita berikan pada anak-anak didik kita untuk belajar dari sumber-sumber lain selain Buku Paket dan LKSnya ? Seberapa banyak pendidik yang membebaskan anak-anak untuk memberi jawaban diluar teks Buku Paket dan LKSnya ? Seberapa besar anak-anak kita diberi kesempatan untuk bertanya tentang dunia diluar Buku Paket dan LKSnya ?

3. Azas ketiga adalah kebudayaan sendiri. Kebudayaan sendiri dimaksudkan sebagai penunjuk jalan untuk mencari penghidupan baru yang selaras dengan kodrat bangsa dan yang akan dapat memberi kedamaian dalam hidup bangsa. Pada azas ketiga juga terkandung makna pendidikan yang tidak boleh memisahkan orang-orang terpelajar dari rakyatnya.

Pertanyaannya, berapa banyak akademisi kita yang menjadi elitis dan berjarak dengan masyarakat dan hanya mampu memberi komentar di televisi tanpa mampu memberi kontribusi nyata pada masyarakat?  Berapa banyak sarjana yang tidak pernah kembali ke desanya dan lebih memilih menjadi karyawan di kota-kota besar dengan iming-iming gaji besar dan kehidupan mewah yang individualistik ?

4. Azas keempat adalah pendidikan yang merakyat. Pendidikan dan pengajaran harus mengena rakyat secara luas. Sebab, hanya dengan cara itu ketertinggalan masyarakat pribumi dapat dihilangkan.

Pada poin ini, kebijakan pemerintah untuk menggratiskan sekolah agar dapat dijangkau oleh semua masyarakat perlu diapresiasi. Hanya saja masalah kualitas pendidikan yang masih jauh tertinggal selalu harus dikritisi dan ditingkatkan mutunya setiap saat agar tidak terjadi kondisi bahwa pendidikan yang berkualitas yang dapat dijangkau oleh kalangan elitis saja.

5. Azas kelima adalah percaya pada kekuatan sendiri. Ini adalah azas yang penting bagi semua orang yang ingin mengejar ketertinggalannya dan meraih kemerdekaan hidup. Dan itu dapat terwujud melalui kerja yang berasal dari kekuatan sendiri.

Sebuah otokritik terhadap kepribadian bangsa Indonesia yang kurang percaya diri menghadapi bangsa asing hingga sekarang. Seakan-akan bangsa asing selalu lebih unggul ketimbang sumber daya manusia bangsa sendiri.  Mentalitas yang kurang percaya pada kekuatan diri sendiri kemudian pasrah menjadi sub-ordinat ketika orang asing masuk dan mempengaruhi. Pendidikan bangsa yang sesungguhnya harus mampu melepaskan belenggu ketidakpercayaan diri kemudian memerdekakan masyarakat agar dapat keluar dari perasaan inferioritas dan memberi keyakinan bahwa kitalah pemilik tunggal kekayaan bangsa dan negara Indonesia.

6. Azas keenam adalah membelanjai diri sendiri. Azas ini sangat dekat dengan azas kelima. Pada azas ini segala usaha untuk perubahan harus menggunakan biaya sendiri.

Inilah filosofi dari ekonomi kerakyatan. Intervensi ekonomi dari pihak asing membuat negara akan terus menerus didikte oleh pihak pemberi dana.  Sebaliknya, jika bangsa ini secara mandiri memperkuat sistem ekonominya sendiri dengan usaha-usaha masyarakat  dan mampu mengoptimalkan seluruh sumber daya yang ada maka intervensi akan sulit terjadi dan masyarakat akan menjadi sejahtera dan mampu menentukan nasibnya sendiri.  Pertanyaannya, apakah hal tersebut sudah terjadi pada negara ini ?

7.  Azas terakhir adalah keikhlasan dari para pendidik dan pengajar dalam mendidik anak-anak. Hanya dengan kesucian hati dan keterikatan lahir batinlah usaha pendidikan dan pengajaran dapat berhasil.

Pendidik atau guru memang sebuah profesi. Namun didalamnya juga sarat dengan nilai kemanusiaan dan kebangsaan. Profesi pendidik bukan profesi jual beli, tetapi pendidik bertugas membentuk karakter bangsa.  Hanya dengan kesadaran bahwa pendidik selalu membawa misi untuk membentuk karakter, sebuah sistem pendidikan akan berhasil.

******

Ketujuh Azas Taman Siswa diatas sesungguhnya juga telah mengatur beberapa aspek kehidupan berbangsa bernegara, salah satunya adalah penerapan ekonomi kerakyatan. Secara mendalam juga telah dipikirkan bagaimana pendidikan untuk anak dan masyarakat harus dilaksanakan.

Pemikiran-pemikiran Ki Hajar Dewantara mungkin sudah banyak dilupakan di zaman serba modern ini, padahal esensinya masih sangat relevan untuk diterapkan bahkan mungkin dapat menjadi jalan keluar atas bobroknya perilaku masyarakat akhir-akhir ini. Dan Ki Hajar mengawali seluruh Azas Perguruan Taman Siswa dengan menitikberatkan pada pendidikan anak. Maka benarlah bahwa “mendidik anak adalah juga mendidik rakyat”.

Pertanyaannya, sudahkah kita mendidik anak-anak kita dengan benar ?

Salam, Asrillanoor

Leave a comment

Filed under Zedutopia Program Belajar Khusus

KATA-KATA KOTOR

Pernah mendengar anak balita berbicara dengan bahasa yang kotor dan tidak pantas ? Saya sering menemukannya. Pernah lihat sekelompok anak SD bermain bola sambil mengeluarkan sumpah serapah. Hampir setiap hari saya melihat dan mendengarnya. Perilaku ini muncul pada anak-anak yang berasal tidak hanya di kalangan masyarakat  dengan status ekonomi menengah kebawah, bahkan pada keluarga dengan status sosial menengah ataspun saya pernah menemukannya. Mengapa kosa kata anak-anak bisa menjadi sedemikian amburadulnya ?

Jelas ada berbagai hal yang menyebabkan terbentuknya perilaku sedemikian. Pada prinsipnya, anak belajar menyerap informasi apa saja setiap saat yang ada disekelilingnya. Seperti kita ketahui, anak-anak khususnya balita memiliki kemampuan daya serap otak seperti spons. Apa saja diserap tanpa saringan. Cara belajar mereka adalah dengan meniru apa yang mereka lihat dan mereka dengar. Jika demikian, maka kata-kata kotor yang menjadi perbendaharaan bahasa yang mereka gunakan berasal dari lingkungan terdekat mereka yang intens, dilihat dan didengar berulang-ulang.

Siapa saja figur-figur yang biasanya ada di sekitar anak ? Yang terdekat biasanya adalah orang tuanya. Kemudian, significant person atau figur pengganti orang tua. Ada juga teman,tetangga dan teknologi. Televisi, radio, gadget saat ini juga menjadi penyuplai informasi bagi anak.

Pertanyaan yang menggelitik saya adalah mengapa semakin banyak anak-anak yang bahasanya mengarah pada bahasa negatif ?  Mengapa perilakunya menjadi menetap seperti mendapat penguatan ? Sebuah asumsi yang memerlukan pengkajian lebih dalam kemudian mampir dalam benak saya, yaitu adanya orang tua dan keluarga yang permisif serta tidak mementingkan masalah perilaku. Bagi mereka, bahasa yang digunakan anak-anaknya adalah bahasa sehari-hari yang wajar yang dipergunakan juga oleh orang tua dan keluarganya. Apakah ada kaitannya dengan tingkat pendidikan ? Jawabannya, bisa jadi. Namun untuk menguatkan asumsi ini diperlukan penelitian empirik untuk memastikannya.

Kalau memang masalahnya justru timbul dari orang tua dan keluarga sementara keluarga tersebut merasa tidak memiliki masalah, lalu harus bagaimana meluruskannya ? Saya kira institusi pendidikan yang memiliki afiliasi terhadap anak dan orang tua tersebut yang harus berperan. Etika seharusnya juga dipelajari disekolah sebagai sebuah integrasi didalam kurikulumnya. Karena itu, jika institusi pendidikan merasa bahwa hal-hal semacam diatas hanya menjadi masalah orang tua dan keluarga maka yang terjadi adalah dekadensi di dunia pendidikan dan keluarga,  formal dan informal. Putus benang merahnya, sama-sama cuek, sama-sama tidak peduli. Padahal seharusnya kedua lembaga ini seharusnya saling bekerja sama satu sama lain, saling menguatkan. Kalau semuanya cuek, lalu mau diapakan masa depan anak-anak bangsa ini, padahal bahasa adalah identitas bangsa. Etika adalah kepribadian bangsa.

Jadi sekiranya ada pembaca yang merasa tergelitik dengan tulisan ini, mulailah menggelitik orang lain baik sekolah, tetangga, maupun keluarga lain untuk paling tidak meluruskan bahasa yang digunakan oleh anak-anaknya sebelum ada polisi bahasa ditugaskan dimana-mana !

Salam, Zaitu Asrilla

Leave a comment

Filed under Zedutopia Program Belajar Khusus

Masih Soal Membaca Pada Anak Usia Dini

Oleh : Zaitu Asrilla

Kemampuan membaca merupakan kemampuan dasar yang dipersyaratkan dalam menempuh pendidikan dasar. Walaupun sebenarnya secara formal anak baru menempuh pendidikannya di kelas 1 SD dan tidak dipersyaratkan harus bisa membaca, pada prakteknya banyak sekolah yang justru melihat kemampuan membaca anak agar diterima di sekolah tersebut.

Sebenarnya pertanyaan apakah kemampuan membaca pada anak harus dimulai sebelum SD atau pada saat SD kelas 1 tidak perlu menjadi polemik yang berkepanjangan karena sekali lagi, membaca adalah kemampuan teknis yang bisa dilatih.

Membaca sangat berkorelasi dengan teks dan simbol, juga dengan buku. Walaupun sekarang teknologi sudah canggih dan anda dapat membaca via gadget, tapi saya masih lebih menyukai buku untuk proses pembelajaran. Sebab, melalui buku anak dapat mencintai baca dan kebiasaan membaca dapat terbentuk.

books1“Membaca” dapat dimulai jauh sebelum anak mampu merangkai huruf (membaca teks). Melihat gambar, simbol, mengasosiasikan gambar dan teks, merupakan langkah awal anak untuk dapat membaca teks. Langkah ini bahkan dapat dilakukan sangat dini saat anak berusia hitungan bulan. Mulailah mengenalkan anak pada buku kain yang bergambar dan tidak bisa robek, hingga anak cukup matang dan mengerti kemudian mulai mengenalkan anak pada buku berbahan kertas tebal hingga anak terbiasa dengan buku bacaan pada umumnya.

Awalilah dengan mengakrabkan anak dengan buku. Bila anak menyukai buku, dia akan menyukai gambar dan tertarik pada teks. Jelaskanlah konsep-konsep sederhana. Kemudian dilanjutkan dengan menerangkan simbol-simbol bentuk dan warna. Kemudian huruf dan angka.

gramedia 4

Jika langkah-langkah ini dilakukan secara konsisten sejak anak anda berusia sangat dini, bahkan sebelum berusia satu tahun, maka tidak mustahil jika anak sudah mampu membaca teks sebelum usia sekolah dasar.

Namun pada realitanya, banyak anak yang belajar “kagetan”. Sebelum anak benar-benar memahami konsep, bersahabat dengan buku dan mengenal simbol-simbol sederhana, anak “dipaksa” secara singkat untuk mengenal dan merangkai huruf an sich. Akibatnya anak dapat membaca teks tanpa memahami konsepnya. Ini yang banyak terjadi dan anak “kedodoran” di kelas yang lebih tinggi. Hal ini dilakukan semata-mata untuk mempersiapkan anak masuk ke pendidikan dasar agar tidak jadi beban di kelas satunya.

Anak yang dipaksa belajar membaca teks akan merasa bahwa membaca merupakan momok yang menakutkan, bukan sesuatu yang menyenangkan. Akibatnya dapat terjadi mentally blocked, malas belajar, dan kehilangan antusiasme bereksplorasi, Padahal, diluar segala macam keterampilan teknis yang dibutuhkan untuk menjalani pendidikan dasar, antusiasme dan semangat belajar yang tinggi seharusnya menjadi kata kunci keberhasilan sekolah anak. Karena pendidikan yang menyenangkan tak pernah membosankan dan anak yang cerdas adalah anak yang antusias yang siap mengahadapi dunia !

belajar 3

Leave a comment

Filed under Zedutopia Program Belajar Khusus