Pendidikan Keluarga Dalam Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Oleh :  Zaitu Asrilla

Karaktervorming dan Sociale Opvoeding
Berikanlah satu hari kepada Keluarga

Jauh sebelum hingar bingar dan maraknya pemikiran sekolah alternatif homeschooling, sesungguhnya Ki Hadjar Dewantara beberapa dekade lalu sudah memikirkan dengan sungguh-sungguh tentang pendidikan keluarga.

Bagi Ki Hadjar, keluarga yaitu kumpulnya beberapa orang yang terikat oleh satu turunan lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai satu gabungan yang khak, pun berkehendak juga bersama-sama memperteguh gabungan itu untuk kemuliaan satu-satunya dan semua anggauta. Di dalam hidup keluarga terdapatlah aturan yang berdasarkan cinta-kasih (yakni Gusti yang tak terlihat), menuju tertib dan damai buat persatuannya, selamat dan bahagia buat masing-masing anggautanya, sedangkan bersatunya keluarga selalu diutamakan.

Gagasan tentang pentingya pendidikan keluarga oleh Ki Hadjar digambarkan sebagai berikut : ” Pokoknya pendidikan harus terletak di pangkuan ibu bapa, karena hanya dua orang inilah yang dapat “berhamba pada sang anak” dengan semurni-murninya dan se-ikhlas-ikhlasnya, sebab cinta kasihnya kepada anak-anaknya boleh dibilang cinta kasih yang tak terbatas.”

Pemikiran ini yang ditransfer Ki Hadjar pada Taman Siswa.  “Taman Siswa kita atur semacam hidup keluarga, karena hanya itulah jalannya kita akan dapat menciptakan perhubungan yang suci, ikhlas dan normal menurut dasar dan sendi kita.”

Ki Hadjar berpendapat bahwa sistem sekolah didominasi oleh atmosfer intelektualisme dan menjadi jauh dari kemanusiaan itu sendiri.

“Sekarang sebaliknya, keadaan pendidikan yang hanya disandarkan pada aturan “pengajaran” dengan “sistem sekolah”. Telah maklumlah kita semua bahwa udara yang ada di situ hanya udara “intellektualisme”, yang sering berjauhan dengan adat kemanusiaan. Anak-anak, perempuan maupun laki-laki, terasinglah dari hidup keluarga, yang sebenarnya harus menjadi “alam persediaan” atau “tangga” untuk masuk ke alam masyarakat, atau alam kemanusiaan. Mereka tidak suka mengindahkan lagi atau seringkali mengabaikan dengan terang-terangan, bahkan kadang-kadang merendahkan ibu-bapanya, lalu sikap itu terlihat juga terhadap pada adat kebangsaannya dan kepada rakyatnya”.

Ki Hadjar juga memiliki gagasan bahwa keluarga adalah pusat pendidikan. “Menurut pendapat saya, alam keluarga itu adalah suatu tempat yang sebaik-bainya untuk melakukan pendidikan sosial juga, sehingga boleh dikatakan, bahwa keluarga itulah tempat-pendidikan yang lebih sempurna sifat da ujudnya daripada pusat-lain-lainnya, untuk melangsungkan pendidikan ke arah kecerdasan budi pekerti (pembentukan watak individuil) dan sebagai persediaan hidup kemasyarakatan.”

Namun demikian, Ki Hadjar sangat menghargai keberadaan guru sebagai pengajar, yaitu orang yang memiliki pengetahuan dan keterampilan pedagogis dalam proses pendidikan.

“Tentang hal pengajaran, maka berbedalah keadaannya dengan hal pendidikan didalam keluarga. Pengajaran itu harus dilakukan oleh kaum pengajar yang mendapat didikan khusus, sedangkan ibu-bapa dalam pekerjaan ini hanya menjadi penyokong atau pembantunya si pengajar.”

Hingga pada sebuah kesimpulan bahwa pendidikan keluarga tidak dapat dipisahkan dari pusat-pusat pendidikan lain, dan tetap membutuhkan kaum guru dan pengajar.

“Buat jaman sekarang haruslah bapa-ibu melakukan pendidikan itu tidak dengan sendirian atau berpisahan dengan pusat-pusat pendidikan lain, tetapi haruslah berhubungan diri dengan kaum guru dan pengajar”.

Pemikiran Ki Hadjar yang ditorehkan dalam “Wasita” tahun ke-I No.3 – Mei 1935, nyatanya masih relevan dengan konteks kekinian. Kekecewaan terhadap sistem sekolah formal yang ternyata belum berhasil membangun karakter masyarakat melahirkan pemikiran untuk menyelenggarakan pendidikan alternatif berbasis keluarga. Fenomena homeschooling atau sekolah rumah mungkin baru santer terdengar 10 tahun belakangan, walaupun pemikiran Ki Hadjar mengenai konsep pendidikan keluarga sudah jauh-jauh hari dikemukakan.

Intinya dalam konteks kekinian, sekolah dengan atmosfer rumah yang bernuansa kekeluargaan berusaha dikembalikan di dalam masyarakat. Hal ini merupakan usaha untuk memperkuat dimensi pendidikan kemanusiaan dan sosial kemasyarakatan ketimbang hanya melulu terpaku pada intelektualisme semu yang berfokus pada konten-konten. Ki Hadjar menyatakan ” Kesunyian laku dan tenaga dalam hidup-keluarga secara modern pada jaman kini ada akibatnya lagi yang pantas kita fikirkan sedalam-dalamnya; yaitu anak-anak terpaksa bertenaga hanya dalam dan dengan angan-anagannya, artinya intelleknya sungguh aktif, tapi tidak disertai tenaga tubuh yang mengandung pendidikan budi pekerti juga. Jadi, teranglah disini kita dapat mengetahui adanya suatu sarang intellektualisme.”

Kesimpulannya, sebenarnya atmosfer pendidikan rumah yang kekeluargaan dapat ditransfer ke dalam pusat-pusat pendidikan di masyarakat, termasuk sekolah, asalkan lembaga memiliki paradigma bahwa sekolah atau pusat pendidikan tidak hanya bertugas dalam mentransfer pengetahuan (knowledge) tetapi juga bertanggung jawab terhadap pembentukan prilaku peserta didiknya.

Rujukan : Karya Ki Hadjar Dewantara. Yogyakarta : Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 1977.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Zedutopia Program Belajar Khusus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s