KATA-KATA KOTOR

Pernah mendengar anak balita berbicara dengan bahasa yang kotor dan tidak pantas ? Saya sering menemukannya. Pernah lihat sekelompok anak SD bermain bola sambil mengeluarkan sumpah serapah. Hampir setiap hari saya melihat dan mendengarnya. Perilaku ini muncul pada anak-anak yang berasal tidak hanya di kalangan masyarakat  dengan status ekonomi menengah kebawah, bahkan pada keluarga dengan status sosial menengah ataspun saya pernah menemukannya. Mengapa kosa kata anak-anak bisa menjadi sedemikian amburadulnya ?

Jelas ada berbagai hal yang menyebabkan terbentuknya perilaku sedemikian. Pada prinsipnya, anak belajar menyerap informasi apa saja setiap saat yang ada disekelilingnya. Seperti kita ketahui, anak-anak khususnya balita memiliki kemampuan daya serap otak seperti spons. Apa saja diserap tanpa saringan. Cara belajar mereka adalah dengan meniru apa yang mereka lihat dan mereka dengar. Jika demikian, maka kata-kata kotor yang menjadi perbendaharaan bahasa yang mereka gunakan berasal dari lingkungan terdekat mereka yang intens, dilihat dan didengar berulang-ulang.

Siapa saja figur-figur yang biasanya ada di sekitar anak ? Yang terdekat biasanya adalah orang tuanya. Kemudian, significant person atau figur pengganti orang tua. Ada juga teman,tetangga dan teknologi. Televisi, radio, gadget saat ini juga menjadi penyuplai informasi bagi anak.

Pertanyaan yang menggelitik saya adalah mengapa semakin banyak anak-anak yang bahasanya mengarah pada bahasa negatif ?  Mengapa perilakunya menjadi menetap seperti mendapat penguatan ? Sebuah asumsi yang memerlukan pengkajian lebih dalam kemudian mampir dalam benak saya, yaitu adanya orang tua dan keluarga yang permisif serta tidak mementingkan masalah perilaku. Bagi mereka, bahasa yang digunakan anak-anaknya adalah bahasa sehari-hari yang wajar yang dipergunakan juga oleh orang tua dan keluarganya. Apakah ada kaitannya dengan tingkat pendidikan ? Jawabannya, bisa jadi. Namun untuk menguatkan asumsi ini diperlukan penelitian empirik untuk memastikannya.

Kalau memang masalahnya justru timbul dari orang tua dan keluarga sementara keluarga tersebut merasa tidak memiliki masalah, lalu harus bagaimana meluruskannya ? Saya kira institusi pendidikan yang memiliki afiliasi terhadap anak dan orang tua tersebut yang harus berperan. Etika seharusnya juga dipelajari disekolah sebagai sebuah integrasi didalam kurikulumnya. Karena itu, jika institusi pendidikan merasa bahwa hal-hal semacam diatas hanya menjadi masalah orang tua dan keluarga maka yang terjadi adalah dekadensi di dunia pendidikan dan keluarga,  formal dan informal. Putus benang merahnya, sama-sama cuek, sama-sama tidak peduli. Padahal seharusnya kedua lembaga ini seharusnya saling bekerja sama satu sama lain, saling menguatkan. Kalau semuanya cuek, lalu mau diapakan masa depan anak-anak bangsa ini, padahal bahasa adalah identitas bangsa. Etika adalah kepribadian bangsa.

Jadi sekiranya ada pembaca yang merasa tergelitik dengan tulisan ini, mulailah menggelitik orang lain baik sekolah, tetangga, maupun keluarga lain untuk paling tidak meluruskan bahasa yang digunakan oleh anak-anaknya sebelum ada polisi bahasa ditugaskan dimana-mana !

Salam, Zaitu Asrilla

Advertisements

Leave a comment

Filed under Zedutopia Program Belajar Khusus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s