Iru : Another Challenge

2014-03-13 16.24.35

Sebongkah kisah………..

Gadis kecil dari desa itu bernama Iru. Usianya 4 tahun. Lahir dari perkawinan siri yang tak tercatat. Bapaknya tak bertanggung jawab. Ibunya dibiarkan membesarkan Iru seorang diri. Anak ini tak terdaftar di negara, belum ada akte. Datang dalam legam kulit, rambut jagung dan liar. Tanpa aturan, tanpa sopan santun, namun membawa kecerdasan dan keberanian kanak-kanak. Permintaannya adalah teriakan dan tantrum. 

Bertemu denganku adalah berkenalan dengan aturan. Tata tertib dan sopan santun. Kadang lembut, kadang keras.  Tak hanya untuknya, tapi untuk ibunya.  Ibunya kuajak berkenalan dengan bahasa kasih sayang, tak hanya cubitan dan pukulan. Walau memendam sakit hati kepada bapaknya si anak, ibunya Iru ternyata belajar untuk mendekap anaknya, perlahan-lahan. “Waktu lahir mau saya kasih ke yayasan kok, bu”  begitu pengakuan sang ibu. Sebagai perempuan, aku memahami. Mencoba berempati, namun mendorongnya untuk kembali kepada perannya sebagai ibu. Mencoba menuntunnya untuk meraih kasih sayang itu dari anaknya, bukan berharap dari laki-laki yang membuatnya menderita.

Iru, perlahan belajar. Belajar berterima kasih, belajar meminta dengan santun, belajar tidak mengganggu temannya, belajar berbagi, belajar berbicara sopan pada ibunya, belajar menjadi anak-anak sewajarnya. Ibunya pun belajar hal yang sama. Belajar bahwa anaknya dapat dibimbing, dapat menghormatinya, dapat mengikuti aturan. Ibunya belajar bahwa anaknya bukan anak nakal, hanya perlu diarahkan. Ibunya belajar bahwa anaknya dapat mencontoh hal yang buruk dan juga mencontoh hal yang baik. Belajar bahwa anaknya berhak punya masa depan yang lebih baik dari dirinya.

**********

Sesungguhnya, bukan persoalan anak desa atau anak kota. Tapi bagaimana keluarga membentuk karakternya sejak kecil. Ada jutaan Iru diluar sana yang tak tersentuh kasih sayang dan arahan. Apa yang akan terjadi jika kondisi seperti ini dibiarkan hingga mereka remaja ? Jangan heran bila kita sering menemukan remaja yang terjerumus kriminalitas, obat-obatan terlarang, seks bebas. Mereka tidak mendapatkan hak yang semestinya ketika mereka kecil, yaitu kasih sayang dan bimbingan orang tua.

Pendidikan keluarga, tak hanya sekedar diterapkan pada keluarga sendiri namun juga mesti ditularkan kepada keluarga-keluarga lain yang membutuhkan arahan. Keluarga-keluarga yang melahirkan anak-anak yang kurang kasih sayang dan kurang bimbingan akan menuai anak-anak yang bermasalah di kemudian hari. Jika kita tidak ingin masyarakat kita di masa depan penuh manusia dengan gangguan jiwa, maka mulailah peduli terhadap keluarga saat ini.

Salam, Asrillanoor

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s